Memahami Makna Spiritual Rangkaian Shalat Guna Menjadikan Ibadah Kita Lebih Berkualitas Dan Bermakna

Pinterest LinkedIn Tumblr +

dKonten.com, PesawaranKajian Sabtu  Berkah

____________________________

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الصلاة والسلام على رسولله، اما بعد :

Pembaca yang dirahmati Allah SWT

Kata SHALAT merupakan isim Masdar dari kata Shalla – Yushalli  secara etimologi , kata shalat berarti doa.

Sedangkan mendirikan shalat bermakna menyempurnakan niat, Takbir Ihram, berdiri, ruku’ , i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tasyahud, doa , serta kekhusyuan (kehadiran hati , takut, dan mencakup segala adabnya) dan ditutup dengan salam sebagai tanda telah usainya rangkaian kegiatan ibadah shalat .

Semua rangkaian ibadah shalat, sesungguhnya memiliki makna spiritual . Diantara makna spiritual dalam rangkaian ibadah shalat adalah sebagai berikut :

1.  NIYYAH (Niat Sholat):

Secara bahasa niat berarti sama dengan AL QASDU (bermaksud), AL AZIMAH (tekad), AL IRADAH ( keinginan),dan AL HIMMAH ( menyengaja).
NIAT merupakan keputusan hati , pernyataan dari alasan alasan di balik perbuatan.

Menurut jumhur Ulama (mayoritas Ulama) niat itu wajib dalam ibadah . Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Hal ini berdasarkan hadits nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no.1 :

انما الأعمال بالنيات و انما لكل امرىء ما نوى

Artinya : ” Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuatu yang diniatkannya”.

Dalam hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ,Rasulullah Saw bersabda :” Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya “. Dalam hadits yang lain Nabi Saw menjelaskan :” Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai Kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai)keikhlasan hatimu (HR.Muslim).

Betapa banyak amal menjadi sia-sia, hanya tersisa letih ,  dan tidak ada nilai di sisi Allah SWT, disebabkan oleh niat hati kita yang tidak lurus karena Allah semata.

2. TAKBIR IFTITAH  (Takbir Pembukaan)

Lafaz takbir (Allaahu Akbar ) adalah lafaz tauhid yang amat kuat pengaruhnya di dalam diri manusia dan di alam makrokosmos (alam semesta).

Dengan mengucapkan Allahu Akbar, kita melemparkan seluruh urusan duniawi di belakang kita dengan tangan kita dan memohon perlindungan dalam kasih sayang Allah  swt.

Ucapan Takbir  untuk menegaskan bahwa  Allah Maha Besar dengan mengucapkan takbir (Allahu Akbar). Saat melakukan takbir ihram, hendaknya tidak ada sesuatu apapun selain Allah SWT di dalam benak dan pikiran.

Dalam perspektif Tasawuf, TAKBIR  IFTITAH ( Takbir ihram) bukan hanya bertanda dimulainya shalat semata.
Melainkan juga sekaligus menyimpan sejumlah rahasia besar yang perlu dan penting untuk diperhatikan. Diantaranya bahwa takbir ihram menjadi pertanda seorang hamba melakukan strating point’ untuk MI’RAJ menembus batas dunia atas.

Suatu ungkapan Ulama’  menjelaskan :

الصلاة معرج الموءمن

Artinya :  ” Shalat adalah mi’rajnya orang orang mukmin”.

Disebut mi’raj orang beriman  karena pada saat setelah seorang hamba bertakbir ihram, seorang yang beriman pada hakikatnya sedang bermunajat , bercengkrama, berbicara, berkomunikasi, berdoa secara langsung kepada Allah SWT. Dimana meski menghadirkan wajah dan hatinya di hadapan Allah atau bermi’raj kepada Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan Imam Hakim : “Sesungguhnya kalian apabila shalat, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhanya.Maka hendaknya ia mengerti bagaimana ia bermunajat kepada Tuhanya”.

3.  QIYAMAH (berdiri)

Qiyam (berdiri dalam shalat) memiliki makna dan kekuatan spiritual. Bagi ahli ma’rifah , berdiri dalam shalat merupakan lambang dari tauhid perbuatan (tauhid Al – fa’ali).

Qiyam (berdiri dalam shalat ) adalah berdirinya manusia di hadapan Allah SWT  Yang Maha Kekal dengan raga dan hatinya.Kepala yang tertunduk saat qiyam mencerminkan ketiadaan kesombongan dan kerendahan hati.

BACA JUGA  Bupati Pesawaran Sampaikan LPj APBD 2020 Ke DPRD

Qiyam ( berdiri dalam shalat) merupakan inti dalam shalat disamping rujuk, duduk,dan sujud. Dimana dalam keadaan berdiri itulah kita berdialog langsung dengan Sang Maha pencita Allah SWT , melalui bacaan surat Alfatihah dan ayat ayat yang lainnya.

Berdiri dalam shalat hendaknya harus diupayakan semaksimal mungkin. Betapa beberapa hadits nabi Saw menceritakan sahabat nabi Saw mempertahankan shalat berdiri walaupun kakinya bengkak. Bahkan , salah seorang sahabat pernah membentangkan tali dari tiang ke tiang sebagai sandaran untuk menopang kakinya yang tidak kuat.

Berdiri dalam shalat merupakan latihan dan mempertahankan misi shalat  untuk menegakkan kebenaran, mencegah keburukan, dan kemunkaran :

تنهى عن الفخشى ء والمنكر

Berdiri dengan tegak dalam shalat diharapkan menjadi lambang ketegaran dalam menegakkan keadilan, menjadi simbol kesabaran, jihad, dan istiqamah.

Orang yang terbiasa berdiri tegar dan Istiqamah akan mendapatkan janji keutamaan dari Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Fushilat ayat 30 ;
“Sesungguhnya orang orang yang mengatakan :” Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan :” janganlah kamu takut , janganlah merasa bersedih,dan gembirakanlah mereka dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu “.

Berdiri di atas kaki sendiri dengan posisi tegar , diharapkan dapat mempersaksikan bacaan bacaan ayat , termasuk bacaan surat Al-fatihah yang menjadi salah satu inti shalat . Seolah kita mengikrarkan bacaan Ayat ayat Alquran kita dihadapan Allah SWT yang dilukiskan dalam hadits nabi Saw :

ان تعبد الله كأنك ترك، وان لم تكن تره فانه يرك
“Menyembah Allah seolah engkau menyaksikan-Nya atau enkau disaksikan-Nya” (HR.Muslim).

Semakin lama kita berdiri , semakin terasa intensifnya pertemuan dengan Allah SWT.

4. QIRA’AT(Bacaan):

Qira’at adalah untuk mensyukuri kesempurnaan Allah yang tanpa cacat, keindahan yang tidak dapat diserupai, dan kasih sayang Allah yang tiada batas dengan mengucapkan Alhamdulillah.
Qira’at (bacaan),  juga  menunjukkan  bahwa segala perbuatan dapat terwujud dengan pertolongan Allah dan pujian hanya bagi Dia.Untuk terhubung dengan Zat Yang Maha Kekal( Allah SWT) dengan mengucapkan:

(“Ya Tuhan Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan). (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin).

4. RUKU ’ ;

Dalam posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang menyembah Allah SWT. Dalam posisi ini juga,  secara konsisten  hewan-hewan yang selalu berdiri dalam ruku’nya di atas empat kaki mereka.

Ruku’ artinya mengagungkan Kebesaran Sang Pencipta beserta seluruh alam semesta . Dengan  melihat kelemahan dan kemiskinan manusia dengan melafazkan “subhana robbial azim”( Maha Suci Tuhan yang Maha Agung  ) untuk berusaha menanamkan akarnya di dalam hati kita dan untuk mengangkat kepala kita dari ruku’,  dengan harapan memperoleh rahmat Allah dengan cara mengulang-ulang kebesaran Allah swt.

Hakekat RUKUK , sebagaimana dijelaskan dalam kitab kitab tasawuf merupakan simbol ketundukan seorang hamba yang rela dengan tulus merukukan kepala sebagai mahkota paling tinggi manusia kepada Allah ‘Azza wajalla . Perbuatan rukuk sesungguhnya bukan hanya kepala. Melainkan yang lebih penting ialah merukukan segenap potensi diri , mulai dari kepala sampai kepada seluruh organ spiritual , seperti kalbu, jiwa , dan akal pikiran.

Seseorang tidak akan mencapai hakikat dan tujuan rukuk, jika yang rukuk hanya lahiriahnya saja tanpa disertai batin atau sebaliknya batin tanpa disertai lahiriah.

Lebih dalam lagi , rukuk merupakan wujud tata Krama dan keadaban individu dan sujud merupakan wujud keakraban (al-qurb). Hal ini menjadi isyarat bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kedekatan dan keakraban dengan Allah SWT , maka terlebih dahulu ia harus melewati fase ketundukan dan keberadaban. Jika seseorang gagal membangun ketundukan, biasanya juga akan gagal meraih kedekatan. Itulah sebabnya rukuk didahulukan baru sujud.

BACA JUGA  Peci Pesawaran Jadi Daya Tarik Di Pekan Raya Lampung

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no.1734 dan Tabrani dalam Al Ausath 7314 , Rasulullah Saw bersabda :

ان العبد اذا قام يصلي أتي بذنوبه فوضعت على رأسه او عاتقه فكلما ركع او سجد تساقطت عنه

Artinya: “Sesungguhnya , tatkala seorang hamba berdiri dalam shalat , didatangkan seluruh dosanya (dosanya kepada Allah bukan dosa kepada sesama manusia), kemudian diletakkan di atas kepala dan kedua bahunya. Maka ketika ia (dalam posisi) rukuk dan sujud , dosa dosanya tersebut berguguran”.

Seorang sufi bernama Rabi’ ibn Haitam diceritakan pernah rukuk mulai tengah malam sampai subuh dalam satu rukuk dalam shalat sunah  witirnya. Ia sangat menikmati indahnya rukuk.

Sebuah riwayat yang disandarkan kepada peristiwa Mi’rajnya Nabi Saw , ketika sedang rukuk, beliau menyaksikan maqam paling tinggi , yakni ‘Arsy yang menakjubkan. Lalu dalam rukuknya beliau mengucapkan : ” SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BI HAMDIH” (Maha Suci Tuhan yang Maha besar dan segala pujian hanya untuk-Nya). Ketika bangkit dari rukuk melihat cahaya ‘Arsy meliputi dirinya dan pada saat itu Beliau membaca :” SAMI ALLAAHULIMAN JAMIDAH ” (  Allah Maha mendengar terhadap orang yang memuji-Nya  ) kemudian Beliau tersungkur di dalam sujud dihadapan Tuhannya yang Maha Agung (HR.Ahmad).

5. SUJUD :

Dengan posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang secara terus menerus bersujud dan binatang melata yang nampaknya hampir selalu bersujud seumur hidupnya.Sujud adalah meninggalkan segala sesuatu selain dari pada Allah swt dengan mengucapkan “subhanarobial a’la”( Maha suci Tuhan yang Maha Tinggi )  dengan kerendahan hati kepada Keindhan Allah, asma  Allah dan segala sifat-Nya.”
Nabi Saw menjelaskan :”
Seorang hamba menjadi paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud. Maka, perbanyaklah doa dalam sujud” (HR.Muslim).

Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra perneh ditanya tentang makna sujud pertama . Beliau menjawab :” sujud yang pertama bermakna :

اللهم انك منهاخلقنا.

(Ya Allah sesungguhnya Engkau yang mrngiptakan kami dari tanah). Maka bangkit dari dari sujud ialah :

ومنها تخرجنا

Dan dari padanya Engkau mrngeluarksn kami . Adapun makna sujud kedua ialah :

واليناتعيدنا

(Dan ke tanahlah Engkau akan mengembalikan kami ) Dan bangkit dari sujud yang kedua bermakna :

ومنهاتخرجنااخرى

(Dari padanya Engkau akan membangkitkan kami).

Sayyidina Ali mengingatkan kita dua filosofi dua sujud.
Sujud yang pertama : mengingatkan kita bahwa manusia berasal dari tanah. Dari tanah manusia diciptakan dan tumbuh menjadi makhluk hidup yang diberi kepercayaan sebagai Khalifah di bumi dengan segala aktifitasnya . Meski demikian, setiap manusia mempunyai ajal dan pada akhirnya juga ia kembali ke tanah , masuk ke liang lahat , dan kembali menjadi tanah.bangkit dari  sujud mempunyai makna ekatologis (kehidupan setelah kematian).

Semua manusia,meskipun sudah kembali menjadi tanah , akan dibangkitkan kembali pada hari kebangkitan (yaum Al ba’ts)untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang pernah dilakukan. ketika berada di antara dua sujud ,” yaitu alam fana , dunia ini”.Kebangkitan dari sujud kedua disebut juga sujud terakhir karena karena tidak ada lagi sujud ketiga.Pada hari kebangkitan,” bumi sudah digulung”.selanjutnya manusia akan hidup di alam keabadian hari akhirat.

Dalam kitab futuhat Al Makkiyyah karya ibn ‘Arabi dijelaskan tentang makna spiritual sujud Sujud adalah simbolisasi asal usul penciptaan kita dari tanah. Sujud adalah simbol puncak rahasia (sir Al Asrar).

BACA JUGA  Gaya Rambut Lelaki yang Sedang Tren di Bandar Lampung

Orang orang yang sujud , sesungguhnya merupakan orang yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengikis kesombongan dan keangkuhan . Sehebat apapun manusia akan kembali ke tanah . Ketika kembali menyatu dengan tanah , tidak lagi bisa dibedakan antara jenis tanah raja dan tanah budak, tanah laki laki dan tanah perempuan, tanah orang kaya dan tanah orang miskin, tanah orang kulit putih dan tanah kulit hitam.
Semuanya sama menjati satu.

Orang orang yang sering bersujud ,seharusnya tidak lagi memelihara sikap egoisme (ananiyah) dan perasaan ujub(inniyah).Orang yang sering bersujud akan tampak bekas bekas sujud (atsar Al sujud)di dalam wajah dan penampilan . Baik sepenampilan fisik maupun emosi dan spititualnya.

6.DUDUK DIANTARA DUA SUJUD ( Duduk Permohonan)

Duduk diantara dua sujud merupakan pengungkapan berbagai permohonan kepada Allah untuk memberikan segala kebutuhan yang diperlukan dalam bekal perjalanan menuju pertemuan dengan Allah SWT. ( Rabbighfirlii ” ya Allah ampunilah aku” , warhamnii “sayangilah aku” , wajburnii “cukupkanlah aku”, Warfa’nii “angkatlah derajatku” , warzuqnii ” berilah aku rezeki ” , Wahdinii ” bimbinglah aku” , Wa ‘aafinii ” sehatkan lah aku ” , Wa’fu ‘annii “dan maafkanlah aku “.

Duduk antara dua sujud , merupakan sikap dimana kita akan dihadapkan pada suatu keadaan bersimpuh dihadapan Sang Hakim Sang Maha Adil ,  dimana kita akan dimintai pertanggungjawaban dipengadilan Allah SWT mengenai perbuatan (amal),umur, masa muda, tentang harta dari mana kita dapatkan dan kemana kita belanjakan, dan mengenai ilmu apakah diamalkan.

7. QA’DA (duduk tasyahud ):

Duduk tasyahud secara harfiah berarti penyaksian dan kehadiran (Al istidhar).

Dengan posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang menyembah-Nya sambil duduk dan juga gunung-gunung, bebatuan juga nampak dalam bentuk yang sedang duduk.

Manusia menegaskan bahwa segala sesuatu yang dia miliki sebenarnya adalah milik Allah dengan mengucapkan tahiyyat. Dia memperbarui imannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ( Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya). Ketika melafadzkan kata  ” ILLALLAAH ” dalam duduk tasyahud ,  jari telunjuk kanan dijulurkan ke depan seolah menujuk sesuatu. Jari telunjuk itu disimbolkan sebagaibpernyātaan tauhid yang sempurna (Al tauhid Al Kamil) semacam Mi’raj bagi orang beriman- tasyahud adalah mengingat percakapan antara  Nabi Muhammad Saw  dengan Allah SWT  pada saat Mi’raj

8. SALAM

Salam adalah ucapan yang mengakui adanya manusia lain yang sama sama dalam perjalanan (aspek kemasyarakatan). Hal ini menunjukkan bahwa hidup tidak sendiri , sehingga hendaknya untuk senantiasa menyebarkan salam dan berkah kepada sesama, untuk saling bahu membahu dalam menciptakan kehidupan yang harmonis ( selaras) sehingga kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan di bumi Allah dapat terwujud.

Salam merupakan penutup dalam rangkaian shalat, dengan simbol yang dimulai dari kanan ke kiri dengan poros badan. Jika dihubungkan dengan hukum kaidah tangan kanan berarti arah energi ke atas , simbolisasi bahwa perjalanan digantungkan pada Allah SWT sebagai Penjamin keselamatan dalam perjalanan kehidupan. Wallaahu ‘alam.

Dengan memahami makna spiritual rangkaian shalat,  kiranya Allah SWT menjadikan kita, keluarga, serta orang orang yang kita cintai menjadi hamba hamba-Nya yang mendirikan shalat  dan shalat yang kita tunaikan semakin berkualitas dan bermakna dalam kehidupan ,aamiin.

Mari kita awali hari ini dengan berbagi kebaikan dengan share kajian ini kepada sesama. Kiranya menjadi amal shalih  yang membawa kebaikan dan manfaat bagi sesama. Aamiin. 🙏🙏🙏

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pesawaran
20 Februari  2021
Al-Faqir : Aby Sugeng Alfadhillah

Share.

About Author

Comments are closed.