Saya punya keyakinan pribadi yang makin hari makin kuat: coding akan jadi salah satu skill paling dasar yang harus dimiliki semua orang. Bukan cuma anak IT, bukan cuma yang kerja di startup, tapi semua orang — termasuk kamu yang kerja di kantor kelurahan, guru sekolah, bahkan petugas administrasi di perusahan swasta dan pemerintahan. Kedengarannya ekstrem? Mungkin. Tapi coba ikuti dulu alasan saya sampai akhir. Siapa tahu kamu jadi punya perspektif baru.
1. Coding Sudah Mulai Diajarkan Sejak Dini di Banyak Negara
Kalau dulu pelajaran komputer hanya sebatas belajar Word, Excel, dan PowerPoint, sekarang banyak sekolah di dunia mulai mengenalkan konsep logika komputer dan pemrograman ke siswa sejak usia dini.
India: Negara dengan “Pabrik Programmer” Dunia
India mungkin salah satu contoh paling mencolok. Pemerintah mereka sudah sejak 2020 lewat kebijakan National Education Policy (NEP), mewajibkan pelajaran coding mulai dari kelas 6. Dan mereka nggak main-main — anak-anak diajarin logika pemrograman, algoritma, dan bahkan Python.
Hasilnya? India sekarang jadi salah satu penyedia tenaga kerja IT terbesar di dunia. Banyak programmer di Silicon Valley ternyata berasal dari India. Bahkan CEO-nya Google dan Microsoft — Sundar Pichai dan Satya Nadella — itu orang India lho!
Kalau dilihat dari sini, kelihatan banget bahwa investasi mereka di pendidikan digital sejak dini benar-benar berbuah.
China: Coding dan AI Jadi Pelajaran Wajib
Di China, mereka bahkan lebih agresif. Pemerintahnya mengintegrasikan AI dan coding ke dalam kurikulum dasar. Anak-anak dari usia 8-9 tahun sudah belajar dasar-dasar Python dan algoritma. Di beberapa kota besar seperti Beijing dan Shanghai, ada semacam les coding yang dianggap sama pentingnya dengan les matematika.
Tujuannya jelas: China ingin menguasai teknologi masa depan, bukan cuma sebagai pengguna, tapi sebagai penentu arah inovasi.
2. Dunia Kerja Mulai Butuh Skill Coding Dasar
Saya mulai melihat perubahan juga di dunia kerja. Banyak perusahaan, bahkan yang bukan di bidang IT, mulai mencari karyawan yang punya basic digital skills, termasuk coding ringan. Bukan berarti semua orang harus bisa bikin aplikasi, tapi setidaknya tahu cara:
- Membuat laporan otomatis dengan Google Sheets + Script,
- Mengambil data dari website (web scraping),
- Mengirim pesan otomatis ke WhatsApp lewat API.
Coba bayangkan kalau pegawai di instansi pemerintah bisa bikin laporan otomatis atau mengelola data tanpa bergantung terus ke vendor. Bukankah itu lebih efisien?
Kalau coding jadi syarat masuk kerja di instansi pemerintahan atau BUMN, menurut saya itu langkah yang masuk akal. Sama seperti dulu komputer jadi syarat, atau sekarang Bahasa Inggris dianggap nilai plus. Ke depan, kemampuan memahami logika komputer akan jadi keunggulan.
3. Negara Kecil Seperti Estonia Sudah Buktikan Ini Bukan Mimpi
Kamu mungkin belum terlalu familiar dengan Estonia — negara kecil di Eropa dengan populasi cuma 1,3 juta orang. Tapi mereka adalah pionir dalam hal e-government. Semua layanan publik, dari bayar pajak sampai bikin paspor, bisa dilakukan online. Dan salah satu penyebab kesuksesannya adalah: mereka ngajarin coding sejak kelas 1 SD!
Bayangin, di usia 7 tahun anak-anak Estonia sudah dikenalkan konsep logika pemrograman. Bukan karena mereka mau semuanya jadi developer, tapi karena coding diajarkan sebagai cara berpikir yang terstruktur.
Dan itu masuk akal. Coding itu kan sebenarnya tentang:
- Memahami masalah,
- Membuat alur solusi,
- Menerjemahkan jadi langkah-langkah yang bisa dieksekusi komputer.
Mirip banget sama cara berpikir sistematis yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kalau Indonesia Mau Maju, Kita Perlu Literasi Digital Tingkat Tinggi

Ilustrasi
Indonesia sebenarnya sudah lumayan nih, mulai banyak sekolah yang kasih pelajaran TIK atau bahkan coding. Tapi menurutku, belum cukup kalau hanya jadi pelajaran opsional atau tambahan. Kita butuh ini jadi bagian dari kerangka utama kurikulum nasional, seperti halnya matematika dan bahasa Indonesia.
Dan jangan cuma berhenti di situ.
Kalau kita berani ambil langkah revolusioner seperti:
- Menjadikan coding dasar sebagai syarat masuk kerja di instansi pemerintah,
- Memberikan pelatihan coding untuk ASN dan perangkat desa,
- Mendorong aplikasi internal pemerintahan dibangun dan dipelihara oleh SDM dalam negeri,
…aku yakin banget transformasi digital Indonesia bakal lebih cepat dan berkelanjutan.
5. Coding Bukan Soal Jadi Programmer — Tapi Jadi Problem Solver
Kadang orang mikir, “Ah, aku nggak mau kerja jadi programmer, ngapain belajar coding?”
Tapi mindset ini salah besar. Coding itu bukan cuma soal bikin aplikasi atau game. Coding adalah:
- Cara menyusun ide dan logika secara terstruktur,
- Alat untuk menyelesaikan masalah lewat teknologi,
- Jalan untuk menciptakan sesuatu dari nol.
Kalau kamu guru, kamu bisa bikin kuis otomatis.
Kalau kamu pegawai kecamatan, kamu bisa bikin dashboard laporan penduduk.
Kalau kamu pemilik toko online, kamu bisa scrape data pesaing dari marketplace pakai Python.
Coding itu skill serba guna.
6. Kita Sudah Punya Banyak Akses, Tinggal Mau atau Nggak
Sekarang belajar coding nggak susah. Banyak banget sumber belajar gratis atau murah:
- YouTube (bahkan anak SD pun banyak yang udah bikin channel coding),
- Platform seperti bytecourse.id (ehem… ya ini juga aku buat),
- Kursus online di Coursera, Dicoding, dll.
Yang penting: kemauan untuk mulai belajar, meskipun sedikit-sedikit.
Coding Itu Seperti Bahasa Inggris di Era 90-an

Ist
Dulu, orang yang bisa Bahasa Inggris dianggap keren. Sekarang? Sudah jadi kebutuhan dasar. Nah, coding akan jadi hal yang sama di era digital ini.
Bukan karena semua orang harus kerja di bidang teknologi, tapi karena dunia akan (dan sudah mulai) digerakkan oleh teknologi. Dan siapa yang ngerti cara kerja teknologi, akan punya keunggulan besar — entah sebagai pelajar, pegawai, pengusaha, atau bahkan pejabat publik.
Jadi, kalau kamu masih ragu belajar coding, aku cuma mau bilang:
Mulailah hari ini. Karena masa depan tidak menunggu yang lambat beradaptasi.
