Kalau kamu dengar orang bilang “website udah ketinggalan zaman, sekarang semuanya TikTok/Instagram,” jangan langsung panik. Faktanya, website masih jadi pondasi utama banyak bisnis—terutama di pasar luar negeri. Yang berubah itu cara orang pakai channel lain sebagai pendukung funnel, bukan menggantikan website sepenuhnya.
Kenapa banyak orang merasa website “sepi”?
Gampangnya: attention economy. Platform seperti TikTok, Reels, Shorts, dan social commerce bikin traffic instan dan conversion cepat — sehingga banyak pemilik bisnis terpancing pindah agresif ke channel yang sedang viral. Tapi itu lebih mirip pergeseran taktis daripada kematian website.
Data yang relevan: di tengah naiknya social commerce, banyak konsumen tetap melakukan pembelian langsung di website brand — dan sejumlah studi menunjukkan bahwa pembelian lewat website brand masih signifikan. PwC melaporkan bahwa mayoritas konsumen pernah membeli langsung dari website brand, dan banyak yang mempertimbangkan opsi D2C (direct-to-consumer). (PwC)
Tren global: website tetap jadi “rumah” brand

Foto oleh Stephen Phillips – Hostreviews.co.uk di Unsplash
Alasan utama kenapa website masih kuat:
- Trust & kredibilitas — Buyer B2B atau partner sering verifikasi lewat website (profil, case study, terms).
- Kontrol dan data — Website memungkinkan pengumpulan data lebih terstruktur (server-side tracking, CRM feed) di era signal loss. IAB melaporkan industri periklanan sedang menyesuaikan besar terhadap perubahan privasi dan hilangnya sinyal — ini membuat kepemilikan aset (seperti website) jadi lebih berharga untuk measurement. (IAB)
- SEO & discoverability jangka panjang — Konten yang teroptimasi organik tetap mendatangkan traffic berkualitas yang tahan lama.
- Fleksibilitas konversi — Landing page, checkout, subscription flow, dan integrasi pembayaran bekerja paling rapi di website.
Social platforms bukan ancaman — mereka mitra strategis

Foto oleh cottonbro studio: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-orang-orang-masyarakat-rakyat-5081918/
Platform video dan creator content tumbuh pesat: Google mencatat konsumsi konten creator naik, dan banyak brand memanfaatkan creator untuk awareness dan konversi cepat. Namun, creator-driven traffic sering butuh “rumah” (website) untuk konversi lebih tinggi dan data pelanggan yang aman. (Google Business)
Selain itu, social commerce memang naik — laporan menunjukkan social commerce mewakili porsi besar dari penjualan online di beberapa pasar (sekitar ~19% di 2024 menurut beberapa laporan), tapi itu lebih memperkaya ekosistem penjualan, bukan menggantikan website. (El País)
Perubahan budget & fokus marketing (singkat)
Banyak perusahaan mengalihkan sebagian budget mereka ke video dan social ads — IAB dan laporan industri lainnya mencatat pertumbuhan signifikan belanja untuk digital video dan social video. Namun perubahan ini sering dikombinasikan dengan investasi di website (optimasi halaman produk, server-side tracking, SEO) untuk menjaga measurement dan kepemilikan data. (IAB)
Apa bedanya pola di Indonesia?
Di Indonesia kecenderungan ikut tren secara cepat lebih terasa: ketika TikTok booming, banyak yang memang benar-benar pindah total — lupa membangun aset jangka panjang. Di pasar luar negeri, pemikiran cenderung lebih terstruktur: website dianggap aset jangka panjang, social dianggap channel taktis.
Kenapa? Karena dalam ekosistem yang lebih matang (B2B besar, market place mapan, partnership internasional), verifikasi dan due diligence lewat website lebih umum — dan brand global lebih siap investasi jangka panjang.
Rekomendasi praktis (untuk pemilik usaha / agency)

Foto oleh Ketut Subiyanto: https://www.pexels.com/id-id/foto/menu-wanita-perempuan-kaum-wanita-4353597/
Kalau kamu pengen strategi yang work baik di pasar global maupun Indonesia, ini resep praktis:
- Website = pusat: investasi di UX mobile, kecepatan, SEO, halaman produk yang meyakinkan, dan sistem analitik yang benar (server-side tracking, GA4 + server).
- Gunakan social sebagai pendorong: content short-form untuk awareness, creator untuk trust & UGC, ads untuk scale. Arahkan traffic ke landing page yang dioptimasi (bukan sekadar profil sosial).
- Measure & atribusi: karena signal loss, pakai kombinasi pixel, server-side, UTM, dan first-party data (email, phone). IAB menyarankan adaptasi measurement di era privasi. (IAB)
- Social commerce sebagai kanal tambahan: cocok untuk produk impulse / lifestyle, tapi jangan berharap itu menggantikan fungsi website untuk brand building. (El País)
- Konten yang tahan lama: buat pillar content di website (artikel, FAQ, studi kasus) untuk SEO jangka panjang; gunakan potongan konten itu di social.
- Optimalkan mobile & checkout: data menunjukkan pengalaman mobile yang baik sangat menentukan repeat purchase. (inBeat)
Kesimpulan singkat
- Website tidak ditinggalkan di luar negeri—malah sering jadi aset paling bernilai. (PwC)
- Social & video menggeser taktik marketing, tetapi lebih sering melengkapi ketimbang menggantikan website. (Google Business)
- Di Indonesia efek “ikut tren” lebih kuat, jadi ada peluang besar untuk agency yang bisa gabungkan strategi jangka panjang (website) + taktik cepat (social).
