Belakangan ini kita sering dengar dari klien atau rekan kerja marketing: “Sekarang request klien bukan SEO lokal lagi, tapi cara agar muncul di hasil pencarian luar negeri.” Kalau dulu permintaan lebih banyak kata kunci Indonesia, sekarang malah banyak request keyword global seperti “organic skincare USA” atau “healthy snacks UK”.
Kalau kita lihat tren ini, jelas sekali ada pergeseran preferensi dari brand-brand lokal. Pertanyaannya, apa penyebabnya? Yuk kita kupas, juga sambil cari tahu apakah ini terjadi hanya di Indonesia, atau juga di luar negeri.
1. Konsumen Lokal Kini Terlalu “Santuy” dengan Konten Sosmed

Foto oleh Andrea Piacquadio: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-yang-duduk-saat-menggunakan-ponsel-3768128/
Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube memang sedang booming di Indonesia. Banyak brand—dari makanan ringan sampai skincare—lebih memilih investasi di konten singkat, influencer, atau challenge viral.
Alasannya sederhana:
- Cepat terlihat, cepat viral—dalam hitungan jam atau hari langsung muncul di feed.
- Lebih mudah kasih call-to-action langsung: “Swipe up”, “KLIK bio”, “Respon DM”.
Tapi ini artinya dua hal:
- Budget besar diarahkan ke social ads, alias paid boost konten.
- Investasi jangka panjang ke website jadi minim—padahal SEO itu butuh waktu dan strategi jangka panjang.
Kalau konten viral habis masa hype‑nya, engagement langsung turun. Viral itu seperti “api unggun”: cepat membakar, tapi kalau nggak terus dipelihara, padam juga cepat.
2. Brand Ingin Ekspansi, Maka Fokus SEO Global

Foto oleh SHVETS production: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-laptop-bekerja-berfungsi-9052778/
Permintaan SEO internasional melonjak karena brand lokal sekarang mulai serius merambah pasar ekspor atau digital export-friendly.
Misalnya:
- Produk home deco dari Jepara ingin menjual ke AS atau Eropa.
- Skincare halal dari Bandung ingin masuk pasar Timur Tengah.
- Fashion modest dari Jakarta ingin menjangkau buyer di Malaysia atau Afrika Selatan.
- Di fase awal ekspansi, brand akan mempertimbangkan hal-hal ini:
Bagaimana kualitas situs mereka di Google.com, bukan hanya .co.id?
- Konten apa yang dicari konsumen di negara target?
- Apakah situs sudah mendukung bahasa, SEO teknik, load time global?
Semua itu bikin agensi atau freelancer SEO harus geser strategi: bukan hanya fokus keyword bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris, secara global.
3. Budaya Mencari dan Membandingkan Produk di Google Masih Kuat di Luar Negeri

Foto oleh Porapak Apichodilok: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-bola-dunia-menghadapi-gunung-346885/
Sementara di Indonesia banyak yang cari produk lewat TikTok atau Instagram, di luar negeri kebalikannya.
Statistik di negara maju menunjukkan:
- Konsumen masih mencari dan mengecek review lewat blog, YouTube, dan forum seperti Reddit, bukan hanya beli lewat sosial media.
- Mereka lebih teliti: “Sudah cukup review? Keamanan pembayaran? Reputasi brand?”
Timbul keyakinan: Jika brand tidak punya website, sulit dipercaya. Sementara kalau rangking di halaman pertama Google AS/UK/Australia, hal itu akan membangun trust di mata konsumen.
Dengan demikian, bukan hanya soal SEO, tapi soal persepsi reputasi online – yang bahkan dikaitkan dengan website sebagai aset jangka panjang.
4. Luar Negeri Masih Invest di SEO Karena ROI-nya Jelas
Kalau di Indonesia banyak menganggap “SEO lama kena, tapi influencer bisa langsung results”, di luar negeri mereka lebih konservatif dan sistematis.
Karena:
- Mereka menghitung ROI: berapa banyak kunjungan, lead, atau sales yang datang dari Google search?
- Struktur pencarian mereka tersegmentasi: informational → transactional → comparison → review → purchase.
- Bahkan jasa jasa freelance/developer terus optimasi web mereka agar ramah lokal: sitemaps, hreflang, backlink dari domain .edu/.gov, dan lain-lain.
Investasi itu bukan hal main-main. URL yang kuat, konten SEO-friendly, backlink multinational… sering jadi poin plus besar dalam persaingan global.
5. Dampak Kombinasi Sosmed + SEO = Holistik
Dalam praktiknya, brand sukses justru yang bisa mengkombinasikan keduanya:
| Channel | Kelebihan |
|---|---|
| TikTok & Reels | Engagement tinggi, cepat viral, ideal untuk awareness dan brand storytelling |
| SEO (Google) | Aset jangka panjang, untuk menarik user yang memang niat mencari dan membeli |
Strategi terbaik?
- Buat konten video di TikTok/Instagram untuk storytelling dan brand recognition.
- Link video itu ke blog/landing page di website dengan keyword relevan.
- Perkuat dengan backlink dan technical SEO.
- Riset keyword global dan optimasi halaman multilingual sesuai negara target.
Skema ini udah terbukti efektif di banyak brand UMKM yang berhasil piacran ke pasar luar negeri—mereka bukan hanya viral, tapi konsisten muncul di Google global.
6. SEO Global adalah Investasi Jangka Panjang, Sosmed adalah Jembatannya
Gambaran akhirnya:
- Brand Indonesia sekarang semakin familiar dengan social media marketing—viral adalah kata kunci utama mereka.
- Namun, mereka juga menyadari bahwa untuk ekspansi global, hanya viral tidak cukup.
- Sementara itu, pasar luar negeri masih sangat mengandalkan website dan SEO sebagai indikator kredibilitas dan kepercayaan.
- Kombinasi keduanya jadi strategi emas: instantly engaging + long-term trust building.
Jadi kalau kamu jadi agensi atau freelancer:
- Perluas service kamu dari SEO lokal → SEO global & teknikal.
- Arahkan brand untuk mempuangkan social media viral ke landing page SEO-ready.
- Tegaskan satu message: “Website adalah aset digital – viral itu bonus.”
Kalau kamu brand:
- Untuk local market, combos TikTok + Instagram ads oke.
- Tapi untuk ekspansi, invest di website, bukan hanya platform luar.
- Jangan abaikan SEO teknikal, terutama jika ingin menjangkau konsumen yang teliti di Google global.
Fenomena shifting dari fokus SEO lokal ke global ini bukan cuma tren—
tapi tanda optimasi strategi yang lebih matang. Brand yang bisa bermain jangka panjang, membangun reputasi sekaligus awareness, dan muncul di Google global, akan menang di era digital sekarang.
Kalau kamu atau tim butuh pitch presentasi, template landing page SEO, atau audit readiness website, tinggal bilang ya. Kita bisa bikin material yang nggak cuma hitam-putih, tapi benar-benar actionable.
