dkonten.com, Finansial – Faktor cuaca yang diperkirakan akan lebih baik pada semester kedua 2021 akan jadi katalis utama pendongkrak kinerja PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Seperti dilansir dari kontan.co.id sepanjang enam bulan pertama tahun ini, Lonsum mencatat produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 745.000 ton atau tumbuh 7,3% secara year on year (yoy).
Seiring produksi TBS yang lebih tinggi, LSIP pun mencatat produksi CPO yang lebih tinggi, yakni sebesar 164.000 ton pada semester I-2021 atau naik 3,8% yoy.
Analis Mirae Asset Sekuritas Juan Oktavianus dalam riset pada 14 September menuliskan, dengan kondisi cuaca yang lebih baik, maka produksi LSIP berpotensi akan mencatatkan kenaikan.
Berdasarkan dari laporan BMKG, fenomena La Nina yang terjadi pada paruh kedua tahun ini cenderung lemah. Oleh sebab itu, Juan menilai hal tersebut akan menjadi katalis positif untuk para produsen CPO karena bisa meningkatkan volume produksi CPO mereka.
“Kami yakin LSIP akan berhasil menghasilkan CPO yang lebih tinggi di sisa tahun ini karena faktor cuaca yang lebih baik di sisa tahun ini. Perkiraan kami, volume produksi CPO LSIP bisa mencapai sekitar 350.000 ton atau naik 5% yoy,” tulis Juan dalam riset.
Sejalan dengan pertumbuhan produksi CPO, Juan juga memperkirakan London Sumatra akan membukukan volume penjualan CPO yang lebih tinggi pada tahun ini, yakni tumbuh 7,3% yoy. Adapun, sepanjang 2020 kemarin, volume penjualan CPO LSIP sebanyak 324.939 ton.
Juan meyakini adanya revisi biaya pungutan ekspor sejak Juli kemarin sebagai upaya mendorong daya saing CPO ke pasar internasional juga menjadi katalis positif. Dalam penyesuaian kebijakan baru, pungutan maksimum atas ekspor CPO akan menjadi US$ 175 per ton ketika harga referensi yang ditetapkan pemerintah di atas US$ 1.000 per ton.
Angka tersebut menyiratkan pemotongan US$ 80 per ton dari kurs yang telah diterapkan sebelumnya. Adanya revisi tersebut dinilai akan menguntungkan LSIP dan membuat margin keuntungannya bisa naik di paruh kedua tahun ini.
Juan pun memproyeksikan laba bersih LSIP pada tahun ini berpotensi tumbuh 39,1% secara year on year menjadi Rp 968 miliar. Sementara untuk kinerja top line diproyeksikan akan tumbuh 34,3% menjadi Rp 4,7 triliun
“Kami merekomendasikan untuk beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.500 per saham seiring outlook harga CPO yang menjanjikan. Selain itu, LSIP juga punya tingkat ekstraksi minyak tertinggi di dalam coverage kami, serta punya neraca keuangan yang kuat tercermin dari arus kas yang positif,” tutup Juan.
