10 Mitos SEO yang Merugikan Website Anda

Pinterest LinkedIn Tumblr +

dkonten.com, Digital – Berada di posisi atas Google itu bagaikan menemukan jin di dalam botol, hampir semua hal yang Anda inginkan bisa terwujud.

Ingin website Anda populer? Bisa! Sebab, sumber traffic terbanyak (51%) itu berasal dari organik Google. Berbeda jauh dari media sosial ataupun paid search yang hanya menyumbang 10% trafik saja.

Ingin jualan Anda laris manis? Tentu bisa! Sebanyak 40% profit bisnis online berasal dari pelanggan yang menggunakan Google untuk menemukan bisnis Anda.

Itu kenapa, masuk ke halaman #1 Google itu penting. Orang hanya melihat halaman pertama saja, terutama yang ada di ranking lima besar. Mereka tak mau repot-repot scroll ke bawah apalagi menuju ke halaman dua Google.

Dan bagian terbaiknya adalah SEO itu murah meriah! Siapa coba yang bisa menolak semua manfaat di atas tanpa perlu merogoh kocek dalam dalam? Bahkan, SEO juga bisa Anda raih tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Mengapa saat ini banyak mitos tentang SEO yang beredar luas?

Ilustrasi

Ada tiga alasan utamanya:

  1. Orang maunya hasil instan. Mereka merasa bisa menipu algoritma Google yang canggih dengan trik-trik murahan.
  2. Ketinggalan zaman dengan algoritma Google yang selalu diperbarui. Akibatnya, mereka masih saja memanfaatkan “celah” jadul yang sudah diperbaiki di algoritma terbaru.
  3. Jebakan dari kompetitor. Mereka sengaja menyebar mitos SEO dengan iming-iming posisi atas dengan mudah kepada situs-situs baru.

Seperti hoax di internet, keberadaan mitos SEO itu juga berbahaya. Anda bisa menghabiskan waktu dan tenaga sia-sia untuk melakukan sesuatu yang tidak terbukti kebenarannya.

Mitos 1: Optimasi SEO itu sekali saja sudah cukup.

Ada dua jenis orang yang menganggap mitos ini nyata:

1. Orang yang optimasi SEO sekali dan tak menghasilkan apa-apa sehingga menganggapnya tak berguna.

Padahal, SEO itu butuh waktu. Jika menerapkan SEO dengan benar, hasil kerja keras Anda akan mulai kelihatan dalam 4-6 bulan. Sebab banyaknya kompetisi di hasil pencarian, dominasi situs terkenal di posisi atas, hingga Google yang perlu waktu untuk mempelajari website Anda.

2. Orang yang baru optimasi SEO sekali tapi hasilnya memuaskan dan menganggapnya cukup untuk selamanya.

Sebaiknya Anda jangan bersantai dan cepat berpuas diri dulu, ya. Algoritma Google selalu berubah dan website baru selalu muncul setiap menitnya. Mereka siap merebut tahta posisi puncak dari Anda. Jadi, Anda tetap harus melakukan optimasi SEO setiap tiga atau enam bulan sekali agar tetap berada di pucuk.

Intinya Anda perlu melakukan optimasi terus-menerus karena SEO butuh waktu dan algoritma Google selalu berubah.

BACA JUGA  Digital Mindset, Sudah Siapkah Kita?

Mitos 2: Keyword stuffing

Keyword stuffing adalah sengaja memperbanyak kata kunci yang sama di satu halaman dengan tujuan untuk mendapatkan ranking tinggi di Google.

Benarkah demikian? Zaman Google baru lahir dulu mungkin iya, tapi tidak dengan algoritma saat ini. Bahkan, keyword stuffing itu justru bisa memberikan dampak negatif bagi SEO Anda, lho. Sebab, Google menganggap keyword stuffing itu manipulatif karena berusaha “mengalahkan” algoritma. Bukannya memberikan konten yang relevan dan berkualitas kepada pengunjung. Padahal pengalaman pengunjung adalah faktor penting bagi SEO.

Mitos 3: Satu kata kunci per halaman itu kunci kesuksesan.

Ilustrasi

Sebelum 2013, strategi ini bisa diterapkan dengan baik. Namun, semua berubah ketika algoritma Hummingbird menyerang. Sejak saat itu, Google menganggap strategi ini sebagai upaya pembuatan konten tak berkualitas karena sifatnya yang repetitif dan terkesan spam. Sehingga justru akan berefek negatif ke SEO Anda. Website Anda bisa turun ranking dan bahkan dihapus (deindex) dari pencarian Google. Mengerikan, bukan? Jadi sebaiknya, satu halaman itu menarget beberapa kata kunci yang berkaitan.

Caranya adalah dengan berfokus kepada search intent pengunjung. Search intent adalah alasan mengapa orang mencari dengan kata kunci tersebut. Dengan kata lain, walaupun kata kunci bisa berbeda, tapi search intent tetap sama. Misalnya, “anak kucing” dan “cara merawat anak kucing” atau “makanan anak kucing.”

Mitos 4: Semakin banyak backlink semakin baik.

Ilustrasi Backlink

Jika membicarakan backlink, kualitas itu mengalahkan kuantitas. Satu atau dua backlink dari situs yang relevan dan terpercaya itu lebih baik daripada 1000 backlink dari situs ecek-ecek yang tak nyambung. Jadi, mulailah mencari backlink berkualitas walaupun jumlahnya hanya sedikit. Bagaimana caranya? Anda bisa mencoba guest blogging, memanfaatkan tools backlink seperti Ahrefs, dan membagi konten di content sharing platform.

Mitos 5: Umur situs adalah faktor utama yang berpengaruh.

Ilustrasi

Mitos ini muncul karena ada orang yang berasumsi: “situs A itu sudah ada sejak lama dan rankingnya tinggi. Berarti umur situs itu faktor penting yang berpengaruh di SEO!”

Situs yang sudah aktif bertahun-tahun itu kemungkinan besar optimasi SEO-nya sudah berjalan dengan baik. Mulai dari kontennya yang berkualitas, memiliki banyak backlink relevan, SEO on-page yang optimal, dan lain sebagainya.

Nah, situs yang seumur jagung akan susah bersaing dengan situs lama tersebut karena optimasi SEO-nya masih kalah. Bukan semata-mata karena umur situsnya. Jika Anda perhatikan, situs baru tersebut perlahan akan naik rangkingnya. Asal ia sudah menerapkan strategi SEO yang benar, mencari backlink berkualitas, dan membuat konten yang bermanfaat. Ingat, SEO dan bikin konten berkualitas itu memang butuh waktu.

BACA JUGA  Apa Itu Digital Advertising?

Mitos 6: Konten asal-asalan bisa dapat ranking tinggi.

Ilustrasi

Memasak makanan dan membuat konten SEO itu punya kesamaan. Kalau melakukannya asal-asalan, maka hasilnya juga seadanya. Google menilai kualitas konten itu sebagai salah satu faktor utama dalam penentu ranking. Konten yang Anda buat haruslah relevan, informatif, lebih baik dari pesaing, kredibel, dan engaging. Lalu di saat yang sama, halaman yang menampilkan konten tersebut juga harus ringan, cepat dibuka, dan mobile friendly

Terdengar sulit dan ribet? Iya, kalau Anda belum paham maksud dan cara kerja Google. Ingat! Tujuan utama pendiri Google adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan mudah diakses oleh semua orang. Jika konten dibuat seadanya dengan load time yang lama pula, justru akan berkebalikan dengan tujuan Google, bukan?

Mitos 7: Konten panjang otomatis dapat ranking tinggi.

Konten panjang memang membantu bersaing di hasil pencarian, tapi ada syaratnya:

  1. Konten panjang berisi informasi sangat lengkap dengan pembahasan mendalam.
  2. Karena pengunjung langsung mendapatkan semua yang ia butuhkan di satu tempat, butuh waktu agak lama untuk menyelesaikannya. Itu pula lah yang membuat bounce rate akan rendah.
  3. Efek dari nomor satu dan dua di atas, konten panjang bisa mendapatkan lebih banyak backlink yang relevan.

Nah, dengan kata lain, konten panjang mendapatkan rangking tinggi karena memang berkualitas dan bermanfaat bagi pengunjung. Bukan semata-mata karena jumlah katanya yang banyak langsung otomatis juara.

Mitos 8: Konten baru selalu lebih diutamakan.

Yup, Google memang cinta dengan konten baru. Namun, hanya saat konten baru tersebut berhubungan dengan search intent pencari dan bermanfaat bagi pengunjung. Misalnya, situs portal berita yang harus selalu update kontennya agar tetap relevan dan kredibel saat pengunjung mencarinya.

Atau saat konten baru tersebut memang lebih berkualitas daripada konten yang lama. Apabila konten baru yang Anda buat tidak menawarkan hal yang berbeda, Google tak akan repot-repot untuk mengutamakannya.

Google tak peduli dengan ribuan kata yang Anda tulis. Google lebih memperhatikan kualitas dan manfaat yang Anda berikan kepada pengunjung. Jika konten panjang ternyata membahas topik yang keliru atau isinya tidak kredibel, siapkan mental Anda untuk tinggal di halaman dua Google.

Jadi intinya, Google suka dengan konten baru selama memang relevan dan bermanfaat.

Mitos 9: Google Ads menaikkan rangking.

Ilustrasi Google Ads

Mitos yang satu ini sangat terkenal. Sebab, orang-orang menganggap bahwa Google Ads (PPC) itu seolah “menyogok” Google agar lebih mengutamakan website yang sudah mengeluarkan uang. Kalau Google mau disogok, orang tak perlu susah susah mengandalkan optimasi SEO yang rumit. Namun kenyataannya, 60% marketer lebih memilih SEO untuk menjalankan strategi pemasarannya.

BACA JUGA  Street Workout Lampung Komunitas Olahraga Tanpa Nge-Gym

Sebenarnya, PPC dan SEO itu mempunyai algoritma yang berbeda. Keduanya mempunyai jalan sendiri-jalan yang terpisah karena tujuannya juga berbeda. Dengan kata lain, hasil di PPC tak akan berefek secara langsung kepada SEO. Pun begitu juga sebaliknya. Jika memang ada, efek tersebut terjadi karena faktor-faktor lain di belakangnya, bukan dari PPC secara langsung.

Mitos 10: Sharing media sosial termasuk faktor penting

Ilustrasi Sosial Media

Tidak. Google sendiri membantahnya. Di tahun 2014 silam, Matt Cutts yang pernah bekerja di tim SEO Google selama 17 tahun berkata:
“To the best of my knowledge, we don’t currently have any signals like that in our web search ranking algorithms.”

Dengan kata lain, algoritma Google menganggap sharing atau link dari media sosial itu bukanlah faktor utama ranking di pencarian. Pernyataan Matt ini juga diamini oleh Gary Illyes yang menjabat sebagai Webmaster Trends Analyst di Google.

Ia mengkonfirmasinya saat ada yang bertanya mengenai mitos ini di Twitter:

Namun, sharing media sosial secara tak langsung bisa berefek kepada SEO Anda dalam jangka panjang, lho.

Kenapa? Ada tiga penyebabnya:

  1. Semakin banyak orang yang share link, berarti konten yang Anda buat itu menarik dan bermanfaat.
  2. Semakin banyak share link, makin banyak pula khalayak yang tahu mengenai situs Anda. Efeknya, situs Anda akan menjadi terkenal.
  3. Situs yang terkenal karena kontennya bermanfaat akan lebih mudah mendapatkan backlink berkualitas. Hasilnya, ranking Anda akan naik dengan sendirinya.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan selanjutnya?

Ilustrasi

Jika Anda terlanjur terjebak tipu muslihat dari 10 mitos SEO di atas, sebaiknya Anda tarik nafas dalam-dalam. Tak perlu panik dan tetap tenang. Segera hentikan praktik SEO sesat di atas dan kembalilah ke jalan yang benar. Anda bisa mengecek apakah Anda terkena penalti melalui Google Search Console dan Google Analytic. Jika
ada pemberitahuan penalti atau trafik organik tiba-tiba menurun drastis, berarti Anda sudah terkena penalti.

Sekali lagi, tak perlu panik! Anda masih bisa memperbaikinya dengan menghapus backlink yang tidak relevan, perbaiki semua konten, dan optimasi performa website secara keseluruhan. Jika melakukannya dengan benar, perlahan penalti akan dicabut dan website Anda akan kembali bersaing di pencarian Google.(*)

Share.

About Author

I am a Frontend designer who loves to translate designs files into Website, Based in Bandar Lampung - Indonesia

Comments are closed.